Ada gula ada semut, agaknya peribahasa ini bisa diterapkan dalam berbagai macam sisi kehidupan. Termasuk juga dalam dunia pariwisata di Yogyakarta. Potensi wisata di Jogja yang sangat banyak, membuat jutaan orang tertarik datang tiap tahunnya. Tentu dari kacamata bisnis, jumlah tersebut adalah peluang usaha yang amat menarik.

Berbagai jenis sektor usaha yang beriringan dengan sektor wisata amatlah banyak. Mulai dari industri oleh-oleh berupa makanan seperti bakpia, yangko, kipo dan yang lainnya. Juga termasuk industri transportasi seperti rental mobil dan bus juga mendapatkan bagian kue potensi wisata Jogja. Tak lupa dunia perhotelan, sebagai salah satu tempat istirahat wisatawan yang sangat mereka butuhkan.

Yogyakarta yang merupakan provinsi yang kecil dan memiliki segudang obyek wisata, tentu menjadi hal yang menguntungkan jika memiliki usaha hotel. Asalkan kondisi keamanan stabil, dan tidak ada bencana alam. Secara rutin wisatawan datang berduyun-duyun mencari tempat wisata menarik disini. Itulah yang membuat banyak investor tertarik untuk mendirikan hotel, tentu investor raksasa, bukan pelaku UMKM tentunya.

Jebolnya Perizinan

Tidak terlalu berlebihan jika kami mengatakan terjadi jebol dalam masalah perizinan berdirinya hotel maupun apartemen di Yogyakarta. Sehingga secara kasat mata hingga artikel ini ditulis, kita masih bisa melihat banyak pembangunan hotel di berbagai tempat. Seolah tidak berhenti.

Bagian dalam hotel Royal Ambarukmo, sumber ig @royalambarrukmo

Bagian dalam hotel Royal Ambarukmo, sumber ig @royalambarrukmo

Bukan bermaksud menyalahkan. Namun wakil rakyat yang menjadi pengetok palu keputusan terkadang tidak menghiraukan aspirasi rakyat yang berada di sekitar hotel. Sehingga beberapa waktu yang lalu sempat heboh istilah jogja ojo di dol, atau dalam bahasa Indonesia artinya Jogja jangan dijual.

Dampak Negatif

Kami mencoba menganalisa apa yang bisa secara langsung kami amati dari maraknya pembangunan hotel dan setelah beroperasinya hotel tersebut di Jogja. Berikut ini beberapa dampak buruk pembangunan hotel di Yogyakarta:

1. Air Mengering

Kejadian adanya air sumur warga yang mengering setelah di dekatnya didirikan hotel terjadi di Jogja. Hal ini terjadi akibat sumur bor yang dibuat oleh pengelola hotel kurang dalam, sehingga menyebabkan air warga ikut mengering. Video cuplikan dokumenter berjudul Belakang Hotel ini bisa menjadi fakta menarik untuk disimak.

2. Penyebab Kemacetan

Tidak semua hotel akan menyebabkan kemacetan. Namun untuk hotel yang ada di tengah pusat kota yang tamunya banyak. Terkadang antrian untuk masuk ke hotel membuat jalan macet. Hal ini bisa kita lihat dari macetnya jalan di sekitar hotel Royal Ambarukmo. Faktor adanya mall Ambarukmo Plaza dan jalan yang sempit memang cukup besar. Namun tak dapat dipungkiri bahwa saat tamu banyak, tamu hotel juga bisa membuat macet.

3. Polusi suara

Hal ini bisa terjadi manakala peredam suara auditorium hotel yang sering digunakan untuk berbagai acara tidak bagus. Suara akan terdengar hingga ke pemukiman dekat hotel. Apalagi jika kegiatan dilaksanakan di malam hari.

4. Transaksi Minuman Keras

Dengan dalih untuk wisatawan mancanegara, hotel berbintang menyediakan minuman beralkohol dalam bar mereka. Namun karena tidak adanya larangan bagi seorang muslim membeli miras. Maka hal ini menjadi salah satu arena penyebaran miras yang legal di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini. Sebagai altenatif, saat ini sudah mulai banyak berdiri hotel syariah di Yogyakarta.

Tentu tidak semua hal jelek, tetap ada sisi positif dari adanya hotel di Yogyakarta. Menurut hemat kami, dengan pengaturan yang cantik, tentu akan membuat warga semakin terayomi. Bukan malah kemudian menjadi antipati akibat berdirinya hotel di sekitar mereka. Semoga bisa menjadi bahan brainstorming bagi warga, pengusaha hotel dan pemerintah daerah. Selamat berwisata dengan nyaman di Jogja. 🙂

Dampak Buruk Berlebihnya Pembangunan Hotel di Yogyakarta
5 (100%) 1 vote